[CERPEN] Duel
Morning guyss... aku kembali nih..
Kesempatan kali ini aku mau ngeposting cerpen lagi..
Happy reading guysss.. ^_^
Duel
Bel
berdering, menggema di langit biru yang nampak cerah. Seluruh siswa kelas VII
dan VIII berhamburan. Mereka mencoba mendapat posisi pertama meninggalkan
kelas. Ribut dan berdesak-desak. Terdengar teriakan anak perempuan yang
histeris dan dramatis ketika terdorong-dorong bahkan ada saja yang saling
menginjak. Guru-guru yang sudah jelas bergabung dengan gerombolan anak tak
berperikesabaran itu hanya geleng-geleng dan berkali-kali memberi nasehat. Kemungkinan
kerongkongan guru-guru itu mulai kering karena tak satupun siswa yang
mengindahkan nasehatnya.
Berbeda
dengan adik-adik kelasnya yang terbilang agresif ketika mendengar bel,
anak-anak kelas IX telah pulang dengan damai tanpa ada kemacetan yang terkadang
membuat guru killer pun tak bisa berkutik. Jauh dari kemacetan itu, tepatnya di
koridor kelas IX yang berada di lantai tiga Meida sedang duduk lesu di depan laboratorium
fisika. Meida menari-narikan pensil dan penghapusnya secara bergantian pada
secarik kertas putih yang dipegangnya. Entah apa yang dikerjakan anak itu,
nampaknya sangat serius. Sesekali terlihat ia berkomat-kamit layaknya
menghafalkan berbagai mantra-mantra sihir lalu tiba-tiba ia mengisyaratkan rasa
frustasinya dengan membuang napasnya dengan berat.
“Hei, Da. Sendirian
aja, mau aku temenin?”, sapa Fera sambil menggandeng dua temannya, atau bahkan
lebih tepatnya em... anak buah mungkin.
“Eh, kamu Fer.
Thanks, ya. Tapi aku udah susah-sudah nyari tempat sepi begini, kalo kamu
gabung percuma kan?”, ungkapku dengan nada seramah mungkin berusaha menyuruhnya
meninggalkanku sendiri.
“Hehe, sorry.
Ngomong-ngomong lagi ngapain nih? Dari tadi aku perhatiin kok kaya marah-marah
nggak jelas. Hati-hati entar kesambet lo, Da.”
“Cuma lagi
menjalankan amanatnya si Arlin, aku nggak akan macem-macem kok.”
“Amanat dari si
killer itu? Kalo nggak salah buat nggantiin si Bian bukan?”, celetuk Rena yang
terkadang termasuk anak yang paling hapal breaking
news di SMP itu. Meida mengangguk.
“Kenapa nggak Arlin
aja yang nggantiin, Da? Dia kan ketua kelas dan bertanggung jawab sama masalah
gituan.”, tanya Fera ingin tahu. Meida mengangkat bahunya tanda tak mengerti.
“Tapi kan ini lomba
baca puisi, kalo nggak salah nih si killer itu anak yang pemalu tahu, atau
bahkan takut malu-maluin?”, sahut Rena yang sok tahu itu.
“Kamu tahu dari
mana, Ren? Jangan asal nyembur gitu kalo nggak jelas sumbernya.”, Hisa yang
dari tadi bermain hp itu tiba-tiba ikut nimbrug. Rena kalah telak.
“Trus, mana
puisinya, Da? Coba lihat dong.”, pinta Fera dengan senyum lebarnya. Meida
memperlihatkan secarik kertas yang putih bersih, hanya saja mungkin ketebalan
kertas itu sudah menipis. Bagaimana tidak? Dari tadi penghapus merah bergambar
angry bird itu telah menggilas berulang kali. Ketiga cewek di depan Meida itu hanya
berdecak dan menggeleng tidak percaya melihat kertas itu masih kosong kecuali
bagian ujung atas sebelah kiri yang bertuliskan ‘Meida Alina’.
“Loh, masih
kosong?”, kaget Rena.
“Ku kira kau sudah
selesai, Da. Berhubung tadi kan kelas bubar satu jam yang lalu. Apa tidak ada
satu bait pun yang kau ciptakan?”, sambung Hisa.
“Aku pengen bantu
kamu, Da.”, ucap Fera sembari melemparkan tatapan iba pada Meida.
“Aku nggak papa
kok, ini juga lagi nyari inspirasi. Dari tadi pikiranku lagi nge-blank, aku khawatir kalau Bian belum
sehat juga. Masa sudah satu minggu masih belum kelar sakitnya.”, jawab Meida
berusaha menyembunyikan rasa khawatir dan kesalnya karena mendapat tugas
dadakan dari ketua kelasnya yang killer itu.
“Cie mikirin
Bian.", goda Rena.
“Apaan sih. Aku
khawatir kalau sampe besok Bian nggak berangkat kali. So, itu berarti aku harus
ngejalanin perintah itu kan? Udah gitu puisinya belum jadi lagi.”, gerutu Meida
meratapi nasibnya dan sedikit merasa malu karena membuat teman-temannya itu
salah paham akan rasa khawatirnya pada Bian.
“Ok, sudah bulat
tekadku, Da! Aku mau bantuin kamu”, seru Hisa bersemangat.
“Tunggu-tunggu kamu
mau apa barusan? Bantuin Ida? Kamu baca puisi aja kaya orang kumur-kumur alias
nggak jelas, apalagi bantu buat. Bisa-bisa nanti yang keluar bahasa alien lagi.
Hahaha”, ledek Rena pada Hisa. Mereka pun tertawa mendengar pernyataan Rena.
“Siapa bilang mau
bantu buat. Aku mau bantu doa kali!”, tepis Hisa. Kini Hisa yang tertawa penuh
kemenangan dalam hatinya membalaskan ledekan Rena.
“Sssttt, kalian
berdua! Udah deh, kasian Meida. Bukannya dibantuin malah ribut sendiri. Tuh
konsentrasi Meida ilang gara-gara kalian.”, omel Fera pada kedua anak itu.
“Maaf, Da.”, ucap
mereka lemah. Meida hanya tersenyum dan mengangguk.
“Eh kita ada les.
Meida kami pulang dulu ya”, ucap Fera seraya beranjak dari lab fisika.
“Semoga cepet
ketemu Bian! Biar nggak nge-blank
terus. Haha”, sahut Rena dengan nada cekikikan.
“Konyol banget
doamu Ren!”, celetuk Ida pada Rena.
“Bye bye! Jangan
lupa bantuannya! Bantu doanya ya His!”, teriakku dari lantai tiga ketika
melihat mereka bertiga kini telah menginjakkan kaki di lapangan basket. Mereka
mengacungkan jempol serempak.
Suasanya kembali hening. Sama
seperti sebelum ketiga temannya itu menghampiri Meida. Gelisa dan takut, ibarat
salad yang tercampur kuat dengan mayones. Gelisah, karena puisinya belum saja
terlahir dari pikirannya. Juga takut, karena Bian teman akrabnya yang belum
juga kembali dari rumah sakit. Tidak ada yang tahu apa penyebab Bian masuk RS,
entah kecelakaan entah sakit dan masih ada entah-entah yang lainnya yang jelas
mengganggu pikiran Meida. Hanya desas desus yang ia dengar.
Hari nampak semakin sore. Meida
tidak menyadari banyak waktu terbuang lantaran pikirannya yang kacau. Ia juga
membiarkan dirinya sedari tadi seorang diri di depan lab itu tanpa seorang pun
yang menemaninya. Yap, Meida adalah anak pendiam yang sedikit cerewet pada
waktu tertentu saja. Menikmati kesendirian dengan pikiran yang entah berpusat
di mana, mungkin makanan Meida setiap hari. Namun, belakangan ini ia mulai
mengubah sikapnya. Ia berharap ia bisa bergaul dengan banyak anak lagi,
terutama tiga anak yang tadi sempat menghampirinya itu dan tidak ketinggalan
pula Arlin dan juga Bian.
Siapa yang menduga, Arlin si ketua
kelas killer itu memilih duduk dengan Meida yang sebenarnya adalah anak
pindahan ketika ia memasuki kelas VIII dibandingkan teman-temannya yang lain.
Ketika ditanya oleh orang-orang kepo yang berkeliaran di sekitarnya Arlin hanya
menjawab dengan santai ‘Kan orang killer harus berdampingan dengan orang
kalem’. Lucu memang anggapan Arlin itu, namun Meida perlahan menyadari sisi
lain dari Arlin. Setiap saat ketika duduk bersama Arlin, ia mulai yakin bahwa
sang ketua kelas itu sangat baik padanya. Hanya saja, jika perintahnya tak
terkabulakan ia akan marah besar. Meida tertawa ketika kenangan itu tiba-tiba
terlintas di pikirannya. Dan ia merasa hpnya bergetar, ternyata kakaknya telah
menjemput dan sedang menunggu di dekat halte depan SMPnya. Bergegaslah Meida
menuruni anak tangga dari lantai tiga ke lantai pertama, lelah memang.
“Sorry, kak. Tadi
di lantai atas.”, ucap Meida sambi nyengir memohon ampun pada kakaknya yang
telah memasang wajah judes.
“Eh, kak. Sore ini
kakak cantik banget nih.” namun kakaknya tak menanggapi rayuan Meida itu.
Ternyata sudah tidak mempan.
Dengan secepat kilat, Meida telah sampai
lalu masuk ke dalam area rumahnya yang luas itu. Luas dan sederhana penuh
dengan warna hijau yang diberikan rerumputan dan pohon-pohon di tamannya.
Nampak mamanya yang tengah menyirami bunga-bunga anggrek kesukaan Meida,
terutama yang warna putih. Tanpa membuang waktu, Meida segera menyapa mamanya
dan masuk ke dalam rumah dan berharap waktu yang tersisa untuknya masih banyak,
waktu untuk menyelesaikan puisi tentunya.
**
Namun apa daya, malam itu mati
lampu. Perasaan Meida semakin kalang kabut. Pagi-pagi yang sangat pagi, ia
bangun dan telah siap di depan meja belajarnya. Tidak ketinggalan secarik
kertas yang tak kunjung mendapat suplai tulisan itu. Pikirannya masih alot jika
pagi-pagi saja sudah dipaksa berfikir, walaupun ia terkenal sebagai anak cerdas
di SMPnya itu. Meida hanya berharap banyak supaya tulisan itu memiliki
inisiatif untuk muncul sendiri *hal yang
mustahil bukan?.
Jam weker bergambar angry bird itu telah
menunjukkan pukul tiga pagi lengkap dengan mata melototnya. Meida masih saja
berkutat dengan bolpoin itu yang mungkin sudah sesak napas karena Ida
mencengkramnya dengan kuat. Sesekali keringat Ida menetes karena saking
kerasnya ia berfikir untuk menuju garis final puisinya itu. Memilih tema
lumayan sulit, terlebih pikirannya sekarang masih kacau. Namun kekacauan
pikirannya itu, memberikan ide. Yap! Menjadi bahan membuat puisinya.
“Kegelisahan yang
berguna!”, desah Ida sangat lirih.
Tak butuk waktu lama seperti
sebelumnya, kini tangan Ida lihai memainkan bolpoinnya. Kata-kata yang
dituliskannya sangat bagus. Bagaimana tidak? Kata-katanya saja keluar dari
hatinya. Tentulah orang yang membacanya akan tersentuh dan seolah-olah ikut
merasakan apa yang dirasakan Ida, kehilangan!
Meida tersenyum sumringah semacam
orang menang undian ketika melihat deretan kalimat-kalimat puitis dengan judul
“Sahabat, Kau Hilang” itu. Jika ini siang hari, ia berniat berjingkrak-jingkrak
kegirangan. Namun, ia tahu diri dan tahu suasana. Jelas tak mungkin pagi-pagi
buta menimbulkan keributan. Siap-siap saja Meida mendengarkan ceramah kakaknya
yang hampir mirip amanat dari kepala sekolahnya yang panjang lebar. Meida
bergidik ngeri kalau hal itu sampai terjadi. Di tengah kegembiraannya yang
tiada tara itu, hpnya membunyikan dering yang membisingkan. Disambarnya hp yang
tergeletak di atas kasur. Tiba-tiba Meida tersenyum selebar mungkin melihat
nama yang ada di layar hpnya itu. Bian nelpon!
“Assalamu’alaikum. Halo,
Bi! Kamu udah sembuh? Kamu sakit apaan sih kok nggak sembuh-sembuh? Udah pulang
ke rumah belum? Oh ya, nanti kamu harus berangkat! Pokoknya harus, nggak ada
tapi-tapian! Karena kalo kamu nggak berangkat, bisa-bisa aku harus nggantiin
kamu. Udah puisinya baru kelar, nggak bagus-bagus amat pula*bohong. Aku tunggu lho, awas kalo nggak
berangkat!”, ucap Meida tanpa mempedulikan Bian untuk berbicara dulu. Entah
saking senangnya mendengar suara Bian, atau saking keponya seorang Ida mengenai
teman akrabnya itu.
“Wa’alaikumsalam. Hey,
selow mba bro. Langsung nyerocos aja. Haha lo kepo ya? Apa kangen sama gue?”,
terdengar jawaban Bian sangat jelas karena keadaan kamar Meida sangat sepi.
“Nggak
kangen-kangen amat sih. Makanya berangkat dong! Tugas numpuk, udah gitu kamu
yang nggak berangkat aku yang kena batunya. Aku jelasin lagi ya, tuh amanat
dari Arlin sekarang berpindah tangan. Aku yang nanggung semuanya, aku
bela-belain bangun tengah malem buat bikin tuh puisi, alhasil baru selesai dan
hasilnya kamu tahu sendiri kan.”, sekarang pembicaraan Meida mulai menjurus
pada sesi curhat.
“Jadi lo nggak mau
bantuin gue, Da?”, suara Bian mulai melemah. Meida yang mendengarnya mulai
salah tingkah *merasa bersalah. Dia
pun mencoba menemukan kata-kata yang pas untuk meluruskan kembali maksud omongannya
itu.
“Mau-mau aja sih,
malah mau banget, Bi. Hanya saja waktu tidak berpihak padaku. Andai aja si
Arlin nyuruh jauh-jauh hari, pasti akan kuterima tawarannya. Lah, dia baru
ngomong kemarin kok.”, tegasku dengan nada yang sedikit direndahkan.
“Tapi, kayak ada
yang salah deh dari omongan lo yang super panjang tadi. Puisinya lo bikin
sendiri? Ck ck ck, nggak kali, Da. Puisinya udah ada di Arlin. Waktu itu gue
udah sempet buat, tapi tinggal guenya besok sempet baca apa nggak.”, ekspresi
Ida berubah geram mendengar penuturan dari Bian barusan. Apakah Arlin berniat
mempermainkan Meida? Atau ada alasan lain yang logis?
“Oh, jadi kamu udah
buat. Ya nggak papa sih, itung-itung untuk mengasah kemampuan puitisku. Haha”,
sahut Ida berusaha tidak terlihat kesal.
“Tapi besok bawa
aja, siapa tahu bagusan punya lo. Tenang aja, setiap karya pasti ada
harganya.”, suara Bian terdengar seperti guru BK sedang menasehati muridnya yang
suka berulah. Ida mengangguk tanpa sepengetahuan Bian.
“Ya udah, Bi. Kamu
istirahat aja, tapi inget! Nanti kalo kamu nggak muncul, awas aja!”, ancam
Meida yang nampak lebih menakutkan dari ancaman sang ketua kelas mereka.
“Siap, bos!”, Meida
hanya tertawa geli mendengar ucapan Bian yang layaknya sedang disuruh-suruh.
“Wassalamu’alaikum,
Da”
“Wa’alaikumsalam,
Bi”
Percakapan itupun berakhir cepat.
Namun, kini Ida sudah mendapat suatu kepastian. Bahwa puisi yang dibuatnya itu
hanya sedikit kemungkinan untuk dibacakan, dan juga orang yang sudah
ditunggu-tunggunya di kelas setiap hari, besok akan menyapanya seperti yang
terjadi satu pekan lalu.
**
“Hy, Da!”, sapa
Arlin dengan senyumnya yang sangat manis, yang terkadang hati Meida pun luluh
karenanya. Apalgi anak cowo?
“Hy, juga Lin.”,
Ida menjawab dengan lesu karena yang menyapanya bukan Bian. Hal ini terjadi
mulai setengah jam yang lalu. Hampir seluruh teman sekelasnya menyapanya karena
posisi Meida yang seperti menghadang di depan pintu, yang mau tak mau temannya
harus memberikan sapaan. Namun, Meida hanya menyahutinya biasa saja.
“Kucel amat tuh
muka. Kaya aku dong, bersih, putih, tak berminyak, tak berjerawat. Layaknya
iklan garnier tahu.”, ledek Arlin masih berdiri di samping Meida.
“Hello, emang kamu
doang yang kaya pelaku iklan? aku juga kali. Aku before-nya kamu after-nya.
Haha”, inilah keistimewaan Meida. Pendiam, namun apabila sudah dekat akan
sangat mudah diajak bercanda walaupun dia sedang badmood.
“Ya udah, masuk
yuk, Da. Emang kamu mau sampai kapan ngetem di sini? Nggak lagi narik uang kas
kan?”, ajak Arlin yang tak sabar masuk ke kelas.
“Nggak juga sih. Ayo”,
balas Ida.
Mereka memasuki ruang kelas. Nampak Fera,
Rena, dan Hisa sedang piket. Usut punya usut yang piket hanya Fera. Namun
karena gelar ‘bos dan dua pesuruh’ sudah terlanjur diberikan teman-teman pada
mereka, maka apa yang bisa mereka perbuat? Di sinilah Fera mendapat keuntungan.
Meida dan Arlin terkadang masih bingung pada Rena dan Hisa. Mereka sempat salut
pada Rena dan Hisa. Bayangkan betapa setianya dua anak itu pada Fera, sungguh
terlihat seperti jaman-jaman kerajaan dahulu kala.
Tak berselang lama, pelajaran pun
dimulai. Meida belum mendeteksi tanda-tanda Bian di sekitarnya. Di sebelahnya,
Arlin tengah fokus mendengarkan Pak Rafi berceloteh. Ingin ia bertanya pada si
ketua kelas, namun ia tak ingin membuyarkan konsentrasi temannya.
“Lin! Lihat Bian?”,
tanyaku mencegat Arlin yang hendak ke perpus ketika waktu istirahat tiba.
“Nggak, Da. Emang
Bian udah berangkat ya?”
“Tapi, tadi di
papan absen tulisannya nihil kan?”, Meida berusaha memastikan.
“Yah, kamu ini. Itu
kan si Rena yang nggak sengaja nulis pakai spidol permanent. Apa kamu lupa?”,
jawab Arlin sedikit tertawa. Meida mulai paham.
Ok, sekarang Meida sedang dibuat
pusing. Mulai dari masalah lomba, Arlin yang menyembunyikan fakta bahwa
puisinya sudah ada, dan sekarang apa? Sampai istirahat pertama ini Meida merasa
ditipu oleh Bian. Tapi, ia masih berharap Bian tiba-tiba nongol di depannya.
“Meida! Lombanya
udah mulai tuh, kamu siap-siap ya!”, perintah Arlin yang membuatku tersadar
dari lamunan.
“Iya, Lin. Habis
ini aku turun kok.”, sahutku sangat tak bersemangat.
Tangan Meida bergetar sembari
memegangi kertas puisinya. Kini ia sedang menunggu gilirannya. Tapi sebenarnya
bukan itu yang ia pikirkan. Pikirannya masih tertuju pada satu nama. Bian.
Kini, bukan ia tak mau menggantikan Bian, bukan itu alasannya. Namun ada
sesuatu yang menggnjal hatinya. Apakah Bian baik-baik saja? Dia bukanlah orang
yang tidak menepati perkataannya. Semakin lama, semakin tak kuasa Meida menahan
dirinya. Buliran air mata mulai menetes di pipinya, hanya kedatangan Bian yang
kini ia inginkan. Bian yang tadi pagi berjanji pada dirinya, Bian yang dengan
senyum lebar menyapanya di pagi itu. Itulah bayang-bayang dalam harapan Meida.
Namun kenyataannya? Terkadang menyakitkan.
“Ya teman-teman,
kini tiba saatnya penampilan dari kelas IX A, Meida Alina diharap menempatkan
diri.”, merasa namanya dipanggil, reflek Meida langsung melangkahkan kakinya.
“Perkenalkan nama
saya, Meida Alina perwakilan dari kelas IX A.”, ucap Meida sebagai pembuka.
Rasanya Meida sudah tidak kuat lagi
meneruskan hal ini. Namun jika ia berbalik, apa arti dari puisi yang susah
payah dibuatnya itu? kalau bukan ingin meluapkan rasa kehilangannya akan Bian
sahabatnya itu, untuk apa ia berdiri di sana? Berharap Bian datang menolongnya?
Mungkin Meida lelah berharap terus seperti itu. Keberadaan Bian saja ia tidak
tahu, bagaimana bisa ia meminta Bian datang untuk yang kedua kalinya? Melihat
judul puisinya saja, dadanya mulai sesak. Namun jika tidak dilanjutkan semua
berakhir sia-sia bukan?
“Sahabat... kau..
hilang...”, ucap Meida mengawali pembacaan puisinya. Nampak jelas ia mulai
menangis, namun sekuat tenaga ia membaca puisinya.
“Kuharap
kau di sini-Menyaksikanku yang tak berdaya-Menantikan kehadiranmu kembali ke
sisiku-Sebagai sahabat selamnya”, itulah bait terakhir yang dibacakan Meida
masih dengan meneteskan air matanya.
Setelah itu, terdengar gemuruh
tepuk tangan yang memenuhi seluruh SMP. Meida tertunduk lemas, tangisnya masih
terdengar namun kalah oleh meriahnya tepuk tangan yang ia terima. Meida tak
peduli akan tepuk tangan atau bahkan kemenangan. Tetap pada harapannya yang
semula, hanya kedatangan sahabat yang ia maksudkan dalam puisinya tadi. Namun,
tiba-tiba semua berhenti bertepuk tangan. Seperti ada sesuatu yang menyebabkannya.
Meida merasa bahunya ditepuk seseorang.
“Keren banget puisimu, Da. Kalo gitu sih, aku
nggak perlu repot-repot buat”, gerutu seorang cowok yang sangat dikenal Meida.
Itu Bian! Segeralah Meida menghadap ke arah Bian, masih dengan wajah penuh air
mata. Meida tersenyum lebar dalam tangisnya, eh bukan, tangis bahagianya!
“Jangan kelamaan jongkok, Da. Entar kakimu kram.
Ayo aku bantu berdiri.”, ucap Bian mengulurkan tangannya.
Meida
tak bisa berkata apa-apa. Senang, tentu senang luar biasa. Bian yang ia kira
tidak akan datang itu tiba-tiba mengabulkan keinginannya tepat ketika sebuah
klimax dimulai. Meida meraih tangan Bian, dan berdiri perlahan. Mereka berdua
bertukar pandang, dan tersenyum bersama.
“Mau denger puisiku nggak, Da?”, tawar Bian pada
Meida yang sudah bisa mengontrol dirinya. Meida mengangguk.
“Ya, teman-teman semua. Perkenalkan namaku
Febrian Ade, aku juga perwakilan dari kelas IX A. Dan pada kesempatan ini, aku
akan membacakan puisi ciptaanku khusus untuk sahabat di sampingku ini. Tapi,
kalian jangan khawatir, anggap saja puisi ini juga untuk kalian semua, ok?”
“OK!”, seru seluruh siswa dengan semangat.
“Tetap bersamamu”, baru saja Bian membaca
judulnya, semua murid sudah bersorak entah karena judulnya menarik atau yang
membacakan yang menarik? *anaknya
ganteng.
Dengan
lancar Bian membacanya tanpa terbata-bata dan diiringi dengan senyumnya yang
menawan, berbeda dengan Meida tadi. Yang puisi sedihnya selalu beriringan
dengan air matanya yang terus mengalir.
“Ku mohon padamu-Jangan
buang air mata itu-Jangan khawatir akan diriku-Karena aku akan tetap di sini-Untukmu
dan untuk persahabatan kita”, ucap Bian mengakhiri penampilannya itu.
Sorakan siswa-siswi pun juga
meriah untuk Bian. Meida semakin percaya pada sahabat di sebelahnya itu. Rasa
percaya akan kesungguhan Bian menjalin tali persahabatan dengan dirinya. Juga
ungkapan Bian pada puisinya itu ‘Karena aku akan tetap di sini’, membuat Meida
semakin mengerti apa itu sahabat.
“Wah, kalian memang andalanku!”, seru Arlin dari
belakang sembari merangkul kedua temannya itu yang ibarat telah mengalami drama
di tengah lapangan.
“Bi, kamu kok baru dateng sih? Bikin orang
khawatir aja!”, bisik Meida masih dalam rangkulan Arlin.
“Siapa bilang aku dateng telat? Orang tadi aku
ngikut UH susulan di kantor guru. Oh ya, aku kan udah bilang, setiap karya
pasti ada harganya. Jadi aku ngasih kesempatan dulu buat kamu. Baru deh,
gantian sama aku. Fair kan?”, jelas Bian yang tak kalah lirihnya dengan Meida.
**
“Tadi itu keren banget loh, Da. Apalagi
kedatangan Bian yang nambah jedar-jeder!”, ungkap Arlina terkagum-kagum melihat
hasil kerja keras temannya itu ketika mereka telah kembali ke kelas. Meida
hanya tersenyum tanpa berkomentar.
“Ya iyalah bagus, orang dianya lagi kangen sama
aku, ya nggak Da?”, ledek Bian.
“Cuma sedikit”, jawab Meida lirih dan sedikit
tertawa.
“Ya udah deh kalau begitu, aku kangen sama kalian
berdua!”, seru Arlina kemudian memeluk kedua temannya. Karena ini di ruang
kelas, jelaslah banyak murid. Murid-murid yang lain nggak mau kalah dari Arlina.
Akhirnya keluarga besar IX A saling berpelukan termasuk wali kelas mereka, Bu
Hilda.
Wah jadi inget teletubies!!! Berpelukan.....
-End-
okay itu dari sayaa.. sorry kalo cerpennya kurrang nggregeettt....
Sekian dan terima G+
[CERPEN] Harapan Konyol
Siapa yang suka baca cerpen hayooo..... nih aku mau ngeposting satu cerpen yang aku angkat dari kisah nyata (?)
40% real dan 60% boongan :p
Ok langsung aja guysss...
HAPPY READINGG . . . .
Harapan
Konyol
Jum’at siang adalah waktu yang
tepat untuk tiga sahabat yang bernama Lisa, Oca, dan Lema itu menghabiskan
waktunya di sekolah. Bukan untuk belajar tentunya, tapi untuk mencari
kesenangan di dunianya masing-masing yaitu dunia maya. Lisa yang tergila-gila
akan K-POP itu tanpa hentinya mendownload lagu-lagu dan video. Oca yang kutu
buku, lebih memilih membaca novel di salah satu blog langganannya dan sesekali
tertawa tanpa sebab. Sedangkan, Lema yang setengah-setengah entah sedang
membuka apa, mungkin mengerjakan tugas. Kesibukan itu membuat mereka lupa teman
dan lupa waktu tentunya.
Siang
pun telah berganti sore. Sinar oranye terlihat jelas menerangi ruang kelas IX D
tempat mereka bersemedi. Lema perlahan mulai memperlihatkan ekspresi bosannya dengan
berjalan-jalan di dalam kelas. Namun kedua temannya tidak peduli.
“Sa, cepet dikit dong. Udah sore
nih, kalo kehabisan angkot gimana coba?”, kesal Lema pada Lisa yang sejak tadi
bergulat dengan laptopnya.
“Sebentarlah, nih juga mau
selesai. Ujung-ujungnya kamu juga ngerasaain hasilnya kan?”, bujuk Lisa.
“Sebentar apanya? Kamu aja
downloadnya masih ada tiga. Segitu nggak lama emang?”, sahut Oca yang hendak
memasukkan laptop ke dalam tas, bersiap untuk pulang.
“Hehe, lima menit lagi ya? Tolong
deh.” Lema dan Oca terpaksa menuruti perkataan Lisa itu.
*15 menit kemudian
Lima
menit penantian Oca dan Lema, ternyata terbalaskan sepuluh menit kemudian.
Mereka berdua ibarat sudah tidak berselera untuk pulang. Berbeda dengan Lisa
yang terlihat sangat senang. Matanya berbinar-binar melihat hasil download
miliknya telah selesai dengan waktu yang singkat.
“Yosh! Mari kita pulang!”, ucap
Lisa bersemangat. Baru beberapa langkah ia lalu menengok ke belakang. Loh, Oca
dan Lema ternyata masih duduk plus dengan pandangan yang menyeramkan ke Arah
Lisa. Lisa pun mendekat.
“Hey, pulang yuk. Mau pada nginep
ya? Emang udah pada bawa ganti?”, tanya Lisa dengan polosnya.
“Nggak bakalan nginep kali. Kamu
sih kelamaan, kita keburu bosen deh nunggu dari tadi”, ucap Oca datar.
“Sorry sorry, hehe. Oh ya besok
ada pr nggak?”
“Ada-ada, bahasa inggris tuh.
Jangan sampe kelupaan loh, kalian tau kan akibatnya apa?”, jawab Lema dan
diikuti anggukan kedua temannya.
Lisa
dan Lema berpisah dengan Oca yang ternyata sudah dijemput di depan sekolahnya.
Kini hanya tinggal mereka berdua yang nampak kebingungan karena hari semakin
sore, dan itu memungkinkan mereka kehilangan kesempatan untuk menghemat ongkos
pulang dengan menaiki angkot. Sesekali Lisa melirik jam tangannya. Namun untuk
yang kelima kalinya, tiba-tiba ia tersenyum dan memikirkan suatu hal.
“Ma, masih ada waktu nih”,
celetuk Lisa.
“Waktu buat apa, Sa?”, Lema tidak
mengerti maksud orang di sampingnya itu.
“Ih ni anak, nggak connect banget.”, gerutu Lisa dalam hati.
“Kamu nggak mau ngelanjutin
ekspedisi kita? Mau sampai kapan coba?”, jelas Lisa. Lema mengangguk mengerti.
“Ya, maulah. Ayo deh kita
berangkat! ”, jawab Lema sembari menarik tangan Lisa.
“Eh bentar, rumah tuh anak searah
sama sekolah kakak kamu kan? Sekalian aja, Sa. Nanti pulangnya nebeng gimana?
Jadi biarlah angkot berlalu.”, langkah mereka berhenti sejenak dan Lisa
mengangguk.
“Kamu kira kakak aku mau, apa? Haha biarin lah”,ucap Lisa dalam
batinnya.
Lema
yang sempat kesal itu, berubah menjadi sangat ceria. Sudah jelas bukan? Ia
ceria karena eskpedisi itu. Setiap pulang sore hari, mereka berdua sering
melewati rumah seorang temannya untu sekedar menengok ke dalam, mereka berharap
bisa melihat anak itu di dalam rumah*impian
yang aneh. Anak itu bukanlah teman dekat bagi Lema. Namun bagi Lisa ia
adalah teman dekat meskipun status itu hanya berlaku di dunia maya *sungguh miris. Dan yang lebih mirisnya
lagi, mereka bertiga adalah teman sekelas. So, mereka ingin lebih dekat lagi
dengan anak itu, walaupun dengan cara yang agak aneh.
Karena
sudah kebiasaan, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah
targetnya itu. Segeralah mereka mengambil langkah pertama yaitu melihat-lihat
sekelilingnya berpura-pura mencari sesuatu. Nice! Mereka melihat temannya itu
sedang berada di halaman depan *nasib yang baik. Ralat-ralat! Temannya itu
cowok loh ya, bukan cewe.
“Sa, ngumpet Sa!”, perintah Lema
sembari menarik tubuh Lisa untuk jongkok di dekatnya. Posisi mereka terhalang
oleh tembok pagar. Jelaslah targetnya itu tidak mungkin melihatnya karena
tembok bukanlah benda yang tembus pandang *ya iyalah.
“Ok, jam 13.05 dia pulang
sekolah, 14.30 stay di dalem rumah,.......
dan sekarang jam 16.15 dia lagi nyiram nyiram nggak jelas di depan rumah bareng
sama adeknya. Udah mandi belum ya? Ahh nggak aku tulis deh”, ucap Lisa yang
membaca catatan hasil observasinya selama beberapa hari itu di sebuah buku
tulis hitam miliknya.
“Sssttt, jangan keras-keras, Sa.
Tuh anak lagi mendekat ke arah kita tahu”, celetuk Lema yang baru saja
mengamati keadaan di dalam. Lisa mengangguk.
Mereka
berdua berusaha mendengarkan apa yang terjadi di rumah itu, karena untuk
melihatnya langsung sudah tidak memungkinkan. Namun, perlahan suara-suara dan
juga tawa yang semenjak tadi mereka dengar tiba-tiba saja lenyap. Apa yang
terjadi? secepat itukah temannya itu selesai, padahal baru sebentar. Lema dan
Lisa berusaha lebih keras lagi! Akhirnya mereka menemukan suara yang
dicari-cari. Namun .....
“Hey, sedang apa kalian?” tanya
sesorang yang tak lain adalah target Lema dan Lisa itu. Mereka berdua sontak
kaget dan takut mengadap ke belakang.
[Hening...]
[Masih hening...]
“Oh, em... eh ini ini, tali..
tali sepatu aku lepas jadi harus jongkok-jongkok.... kan?”, ucap Lema
terbata-bata mencari alasan namun masih membelakangi anak itu.
“Trus, Lis apa yang kau lakukan?”
Lisa belum sempat mencari alasan lain. Terpaksa ia berdiri dan berbalik badan
menghadap anak itu. Lisa tampak pasrah.
“Waduh! Bahaya nih”, gerutu Lisa dalam hatinya. Anak itu masih setia
menunggu jawaban Lisa *ciee.
“Lis, kita ketangkep basah nih.”,
ucap Lema sangat lirih.
“Eh Ma. Kita itu nggak basah sama
sekali tahu!”, tepis Lisa.
“Ih itu cuma perandaian, Sa. Kamu
itu pinter tapi lemot ya?”, ledek Lema walaupun dalam suasana yang seperti itu.
“Kok kalian malah ribut sendiri
sih? Aku dikacangin kan? Eh Lis, jadi kenapa kamu di sini?”, ucap anak itu
dengan sedikit penekanan pada kalimat terakhirnya. Wah game over nih.
“Ya Allah kirimkanlah hujan supaya aku punya alasan untuk pulang dan
ngehindar dari nih anak, ya Allah. Aaamiinn.”, Lisa berdoa dalam hati
berharap ia bisa lari dari tkp itu. Berselang lima detik dari doanya itu,
tiba-tiba...
Byuuurrr....
“AAHHHHHH”, teriak Lema dan Lisa
kaget sekaligus kedinginan mendapat kiriman air yang entah dari mana asalnya.
“Ra, air itu jangan dibuang ke
sini ya. Masih mending yang kena nih anak berdua, kalo yang kena orang lagi
lewat gimana?”, ucap anak laki-laki itu pada adiknya yang tengah berdiri dengan
tangga untuk mencapai ketinggian pagar.
“Oh jadi aku sama Lema dianggep lebih rendah dibandingkan orang lewat
yang dia pun nggak kenal? Ok fix. Tapi
kalau dipikir-pikir ... Walaupun bukan hujan, air satu ember pun jadi” pikir
Lisa antara kesal dan senang.
“Akhirnya ketangkep basah juga”,
ledek Lema membenarkan perkataannya tadi. Lisa mengangguk mengiyakan. “Iya deh”
“Oh ya, hm... Raka kami berdua
pulang dulu ya. Sorry kalo ngganggu, bye”, ucap Lisa yang sebenarnya ingin
segera pergi dari sana. Segeralah mereka berdua berlari menjauh dari rumah itu,
hingga mereka berdua ngos-ngosan. Raka hanya kebingungan melihat kedua temannya
itu, eh bukan teman tapi CTW lah ya.
“Woy, tungguin! Kamu itu larinya
kenceng banget sih. Udah berhenti dulu!”, perintah Lema sembari mengatur
nafasnya yang tersengal. Lisa menurut. Mereka pun duduk di sebuah bangku tempat
biasanya orang menunggu kendaraan umum.
*10 menit berlalu
“Gimana kakakmu, Sa? Jadi
njemput?”, tanya Lema masih dengan ngos-ngosan.
“Nggak tahu juga, lagian kalo
nungguin kakakku malah kelamaan, kamu mau pulangnya tambah telat?” belum sempat
Lema menjawabnya, mereka terkejut karena dikagetkan dengan bunyi klakson yang
sangat keras, dari kakaknya Lisa tentunya.
“Eh, kakak. Lama banget sih! Udah
nungguin nih. Oh ya katanya si Lema mau nebeng. Boleh nggak?”, tanya Lisa pada
kakaknya ketika menyadari kakaknya telah datang.
“Boleh sih, boleh. Emang pada mau
ya bonceng bertiga?”, ledek Kak Beni.
“Haha Cuma becanda kak. Lema naik
ojek, kok. Yaudah kak, Lis aku balik dulu ya.”, ucap Lema sembari melambaikan
tangan.
Berakhir
sudah cerita untuk hari ini. Untuk ketiga sahabat yang akrab itu. Lisa
tersenyum mengingat-ingat tingkahnya bersama sahabatnya itu sepanjang hari ini.
Kak Beni memandang aneh ke arah Lisa.
“Lis, kok bajumu basah?”
“Iya, kak. Abis kehujanan”, jawab
Lisa singkat sambil tertawa.
“Hujan dari Singapura? Hari
panas-panas gini.”
“Hujan buatan kak!”, ucap Lisa
lirih. Ya, kakaknya mungkin tidak mendengarkannya. Lisa pun memilih menikmati
pemandangan jalan raya dengan lampu alam yang mulai redup dan digantikan oleh
lampu-lampu penerang jalan. Sungguh pemandangan yang indah.
***
Keesokan
harinya, tepat sepuluh menit sebelum pelajaran bahasa inggris dimulai, Lisa tampak
gelisah dan berjalan berputar-putar nggak jelas di sekitar bangkunya. Lema dan
Oca yang melihatnya berusaha menahan tawanya yang bisa meledak kapan pun.
“Udah ketemu belom, Sa? Hahaha”,
ucap Oca sambil tekekeh melihat Lisa sangat kebingungan. Lisa menggeleng.
“Pasrah aja deh, Sa.”, usul Lema
yang masih bisa menahan tawanya. Lisa tersenyum getir.
Waktu
sepuluh menit tidaklah cukup bagi ingatan Lisa untuk me-replay kejadian yang pernah ia alami. Dan terpaksalah ia
menerima hukuman dari gurunya itu. Lisa sangat menyesal, kenapa bukunya samapai
hilang? Lisa sudah yakin ia sudah menyelesaikan tugas itu jauh-jauh hari. Tiba-tiba
bukunya hilang? Musibah apa lagi ini?
“Gimana tadi rasanya, Sa? Manis,
pahit, asin, asam?”, ledek Oca yang sedang memegang sebuah novel keluaran
terbaru.
“Manis sih, kalo dikasih gula!”,
jawab Lisa ketus.
“Ha-Ha!”, ucap kedua temannya
bersamaan.
“Eh, Sa. Pinjem kunci loker dong.
Mau ngambil buku fisika punyaku yang kemaren aku titipin,”, celetuk Oca. Dengan
sigap Lisa mengambil kunci yang selalu ia bawa itu dan memberikannya.
“Lisaaaaa!!!!”, teriak Oca sangat keras.
Untung saat itu tidak ada siswa lain kecuali mereka bertiga di dalam kelas,
jadi aman-aman saja.
“What the hell, Ca?” Lema yang
penasaraan itupun tiba lebih dulu.
“Apa sih Ca? Heboh banget.”,
sahut Lisa.
“I...I....ini buku bahasa inggris
milikmu kan Sa?”, tanya Oca tidak percaya. Lisa mengangguk namun masih dalam
kebingungan.
“Berarti bukumu nggak ilang
dong?”, tanya Oca lagi. Lisa tidak menjawab.
“Sini! Biarkan detektif yang
memecahkannya!”, usul Lema dengan berlagak ala-ala detektif. Lema pun
membolak-balik lembarang buku, berharap ada secercah bukti di sana.
“Wah ketemu!”
“Apanya yang ketemu?”, tanya Oca
dan Lisa bersamaan.
“Coba deh kamu baca.”, jawab Lema
sembari menyodorkan buku dengan cover hitam dan ungu itu.
“Hy, Lis. Nih buku kemarin
ketinggalan, lo juga yang main pergi gitu aja. Karena kepo, gue baca deh eh
malah nemuin kaya gituan. Jadi lo sengaja mata-matain gue sampe dateng ke
rumah? Haha konyol juga. Jadi yang kemarin itu lo sama Lema lagi nguping?
Untung deh ada si Rara yang nyiram kalian dulu sebelum kalian pergi, hahahaha....
Oh ya, kenapa lo pengen ngerti
kegiatan gue sih? Kalo mau akrab main aja ke rumah gue, kagak ada yang mau
ngusir kok. Tapi, apa jangan-jangan lo suka sama gue? Haha ngaku aja deh. Nggak
usah malu-malu gitu, entar malah malu-maluin
tau. Ngomong aja ke gue, bakalan gue pertimbangin kok, tenang aja.
~Salam”, ucap Lisa membacakan apa saja yang tertulis di buku tulisnya itu.
“Berarti!”, ucap Lema tidak
percaya terhadap apa yang didengarnya itu. Apalagi Oca yang tidak tahu-menau
tentang ekspedisi rahasia itu.
“Ya, Raka yang naruh buku ini di
loker. Kemarin aku ngejatuhin nih buku pas si Raka nanya ke kita”, jelas Lisa.
Baru
saja Lisa menyebut nama Raka, ibarat mendapat sebuah panggilan, tiba-tiba saja
Raka masuk ke kelas dengan teman-temannya. Lisa langsung menatap Raka seperti
memberi isyarat “jadi bener lo yang naruh?”, Raka hanya tersenyum dan
mengangguk.
“Hhhh, ternyata.. cowo bisa GR
juga”, ucap Lisa dengan lirih. Namun di sisi lain tampak Lema yang sedikit
murung.
“Hayo, Lema cemburu nieh... ekhm
ekhm, jujur aja kali Ma. Jangan dipendam terus entar sakit loh.”, ledek Oca
yang sepertinya mengerti sesuatu tentang Lema. Ya! Tentang perasaan Lema. To
the point banget deh.
“Benarkah itu? Lema kamu
serius?”, tanya Lisa tidak kalah meledeknya dengan Oca.
“I... iya Sa. Tapi aku takut
kalau kamu marah, Sa.”
“Loh, marah kenapa? Aku nggak
suka kali sama Raka.”, jelas Lisa. Mendengar hal itu Lema sangat senang dan
berencana untuk mengenal lebih jauh tentang Raka.
“Haha lo salah tebak, Ka. Yang suka sma lo bukanlah aku tapi si Lema
tahu. GR yang kelewatan.”, Lisa menuliskan kalimat itu tepat di bawah
tulisan Raka di dalam buku bahasa inggris milik Lisa.
“Entah kapan kamu bisa membaca tulisan ini, namun biarlah waktu yang
menjawab pertanyaanmu itu.” Batin Lisa sembari memandang Raka yang sedang
membaca sebuah komik itu. Dan sekali lagi ia memandang Lema yang semakin lama
terlihat semakin salting karena pengakuannya itu.
“Eh kalian, kalo ngintip-ngintip
orang ngajak-ngajak dong! Biar aku bisa gabung, ya ya?”, pinta Oca dengan
ekspresi memelas.
“NGAK!”, bentak Lema dan Lisa
bersamaan.
~The End~
Keterangan tokoh
-Lisa is me
-Lema is Nisa
-Oca is Kiki
Ok itu biar nggak ada kesalahpahaman :p
-
-
-
-
oh y Gimana nih? haha sorry garing dan GJ bertebaran.
Jangan lupa tinggalkan jejak woy!
Taeyeon (feat Verbal Jint) I-Lyric
Annyeonghaseo chingu-deul....
Kali ini aku mau ngepost lirik lagu Taeyeon "I"
Hayo.. udah pada denger semua kan? kalo belum sih kebangetan... lagu ini bagus bingit guys,,,,
OK langsung aja, cekidot....._..._
Bicheul ssodneun Sky
Geu arae seon ai (I)
Kkumkkudeusi Fly
My Life is a Beauty
Geu arae seon ai (I)
Kkumkkudeusi Fly
My Life is a Beauty
[Verbal Jint]
Eodiseo manhi deureobon iyagi
Miun oriwa baekjo, tto nalgi jeon-ui nabi
Saramdeureun molla, neoui nalge-reul motbwa
Nega mannan segyeraneun geon jan-inhaljido molla
But strong girl, you know you were born to fly
Nega heullin nunmul, nega neukkin gotong-eun da
Deo nopi naraoreul nareul wihan junbi-il ppun Butterfly,
Everybody’s gonna see it soon
Eodiseo manhi deureobon iyagi
Miun oriwa baekjo, tto nalgi jeon-ui nabi
Saramdeureun molla, neoui nalge-reul motbwa
Nega mannan segyeraneun geon jan-inhaljido molla
But strong girl, you know you were born to fly
Nega heullin nunmul, nega neukkin gotong-eun da
Deo nopi naraoreul nareul wihan junbi-il ppun Butterfly,
Everybody’s gonna see it soon
Bicheul ssodneun Sky
Geu arae seon ai (I)
Kkumkkudeusi Fly
My Life is a Beauty
Ijeottdeon kkum, nae mam tto geuryeonae
Umcheu-ryeottdeon sigan modu moa da samkyeo nae
Jageun gieok hana dulssik nal kkaewoga
Sesang gadeuk chaeul mankeum nareul pyeolchyeoga
Gilgogin bameul jina
Dasi Trip gireul tteonabollae
Why not? I sesang-e nae mameul kkaewo juneun hanmadi
Honjayeottdeon Yesterday, sel su eobtneun siseon-e
Tteoreojineun nunmullo harureul tto gyeondigo
Aseulhaettdeon Yesterday, ssodajideon maldeule
Heundeullineun nareul tto gamssago
Bicheul ssodneun Sky
Umcheu-ryeottdeon sigan modu moa da samkyeo nae
Jageun gieok hana dulssik nal kkaewoga
Sesang gadeuk chaeul mankeum nareul pyeolchyeoga
Gilgogin bameul jina
Dasi Trip gireul tteonabollae
Why not? I sesang-e nae mameul kkaewo juneun hanmadi
Honjayeottdeon Yesterday, sel su eobtneun siseon-e
Tteoreojineun nunmullo harureul tto gyeondigo
Aseulhaettdeon Yesterday, ssodajideon maldeule
Heundeullineun nareul tto gamssago
Bicheul ssodneun Sky
Geu arae seon ai (I)
Kkumkkudeusi Fly
My Life is a Beauty
My Life is a Beauty
Kkochipeun jeomulgo
Himgyeowottdeon nan, jageun bicheul ttaraseo
Adeukhaettdeon nal, jeo meolli bonaego
Chanranhage naraga
Bicheul ssodneun Sky
Saerowojin Eyes (Saerowojin Eyes)
Jeo meolliro Fly (Fly High, Fly High)
Nan namanui Beauty
Nun gameun sun-gan
Siganeun meomchwoga
Nan dasi tteo-olla
Kkochipeun jeomulgo
Himgyeowottdeon nan, jageun bicheul ttaraseo
Adeukhaettdeon nal, jeo meolli bonaego
Chanranhage naraga
Bicheul ssodneun Sky
Saerowojin Eyes (Saerowojin Eyes)
Jeo meolliro Fly (Fly High, Fly High)
Nan namanui Beauty
Nun gameun sun-gan
Siganeun meomchwoga
Nan dasi tteo-olla
Sumber : Di sini loh

