Archive for 2015

Usher feat Pitbull DJ Got Us Fallin in Love Again-Lyric

Usher feat Pitbull DJ Got Us Fallin in Love Again


[Usher](yeah man)So we back in the clubGet that bodies rockin from side to side (side to side)Thank God the week is doneI feel like a zombie gone back to life (back to life)Hands up, and suddenly we all got our hands upNo control of my bodyAin't I seen you before?I think I remember those eyes, eyes, eyes, eyes
Cause baby tonight, the DJ got us falling in love againYeah, baby tonight, the DJ got us falling in love againSo dance, dance, like it's the last, last night of your life, lifeGonna get you rightCause baby tonight, the DJ got us falling in love again
Keep downing drinks like there's no tomorrow there's just right now, now, now, now, now, nowGonna set the roof on fireGonna burn this motherfucker down, down, down, down, down, downHands up, when the music dropsWe both put our hands upPut your hands on my bodySwear I seen you beforeI think I remember those eyes, eyes, eyes, eyes
Cause baby tonight, the DJ got us falling in love againYeah, baby tonight, the DJ got us falling in love againSo dance, dance, like it's the last, last night of your life, lifeGonna get you rightCause baby tonight, the DJ got us falling in love again
[Pitbull]In the cover of the musicGet naked babyI'm sorry chicaBetter holla at TyroneLet him know how I jump through your foot loopScolla chico two canWe're from the blocka blocka o polacaWere the boys get loose like wacka flackaOh no man, it's globalWas' upColale flackaI wanna be your gyno, no not your doctaDale abre aiPapa Nicholas babyLet me seeYo soi un JaunitoQue stato taitoYo freco, no OK
Cause baby tonight the DJ got us fallin in love againYeah, baby tonight, the DJ got us falling in love againSo dance, dance, like it's the last, last night of your life, lifeGonna get you right
Cause baby tonight the DJ got us fallin in love againYeah, baby tonight, the DJ got us falling in love againSo dance, dance, like it's the last, last night of your life, lifeGonna get you rightCause baby tonight, the DJ got us falling in love againYeah, thank you DJ

Sumber : http://lirik.kapanlagi.com/artis/usher/dj_got_us_fallin%2527_in_love_feat_pitbull

J-Lo On The Floor-Lyric

Morning guys.. I will share "J-Lo On The Floor-Lyric"
Ok, Cekidot :p
Jeniver Lopez feat Pitbull On The Floor-Lyric



[Pitbull]
J-LO!
[Jennifer Lopez]
It’s a new J-Lo ration
of party people
[Pitbull]
Get on the floor (dale)
Get on the floor (dale)
RedOne
[Jennifer Lopez]
Let me introduce you to my party people
In the club… huh
[Pitbull]
I’m loose
And everybody knows I get off the chain
Baby it’s the truth
I’m like Inception
I play with your brain
So don’t sleep or snooze
I don’t play no games so don’t-don’t-don’t get it confused no
Cause you will lose yeah
Now pu-pu-pu-pu-pump it up
And back it up like a Tonka truck
Dale!
[Jennifer Lopez]
If you go hard you gotta get on the floor
If you’re a party freak then step on the floor
If your an animal then tear up the floor
Break a sweat on the floor
Yeah we work on the floor
Don’t stop keep it moving
Put your drinks up
Pick your body up and drop it on the floor
Let the rhythm change your world on the floor
You know we’re running sh*t tonight on the floor
Brazil, Morocco,
London to Ibiza,
Straight to LA, New York,
Vegas to Africa
[Chorus]
Dance the night away
Live your life and stay young on the floor
Dance the night away
Grab somebody, drink a little more
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
[Verse 2]
I know you got it
Clap your hands on the floor
And keep on rockin’
Rock it up on the floor
If you’re a criminal, kill it on the floor
Steal it quick on the floor, on the floor
Don’t stop keep it moving
Put your drinks up
Its getting ill
It’s getting sick on the floor
We never quit, we never rest on the floor
If I ain’t wrong we’ll probably die on the floor
Brazil, Morocco,
London to Ibiza,
Straight to LA, New York,
Vegas to Africa
[Chorus]
Dance the night away,
Live your life and stay young on the floor
Dance the night way,
Grab somebody drink a little more
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
[Pibull]
That badonka donk is like a trunk full of bass on an old school Chevy
Seven tray donkey donk
All I need is some vodka and some coke
And watch and she gon’ get donkey konged
Baby if you’re ready for things to get heavy
I get on the floor and act a fool if you let me
Dale
Don’t believe me just bet me
My name ain’t Keath but I see why you Sweat me
L.A. Miami New York
Say no more get on the floor

Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor
Lalalalalalalalalalalalalala
Tonight we gon’ be it on the floor

Sumber : Here
Sekian dan terima kasih >_<

Hardware Internet


HARDWARE INTERNET




1.      Modem
Modem berfungsi untuk mengubah gelombang analog menjadi sinyal digital dan sebaliknya mengubah sinyal digital menjadi gelombang analog.
Modem merupakan perangkat perantara antara komputer dengan saluran telepon agar dapat berhubungan dengan ISP (Internet Service Provider - penyedia jasa internet).  Kabel modem adalah alat yang memberikan akses berkecepatan tinggi ke internet melalui jaringan kabel televisi. Sama halnya dengan respon dari modem analog tradisional, kabel modem memiliki keunggulan mempunyai kekuatan yang lebih, mampu mengirimkan data lebih cepat kira-kira 500 kali.


2.      Hub
Hub berguna untuk menghubungkan antar segmen dalam jaringan. Dia bekerja di level fisik (layer pertama) dari model referensi OSI. Dengan adanya hub, maka CSMA/CD yang bertugas untuk mensharing medium (kabel, udara, fiber, dll) agar semua bisa terkoneksi dapat berjalan dengan baik. Hub bertugas mengkoneksikan setiap node agar terhubung dengan sebuah backbone utama dalam proses transmisi data.



3.      Router

Router adalah sebuah alat jaringan komputer yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari stack protokol tujuh-lapis OSI.

Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Router berbeda dengan switch. Switch merupakan penghubung beberapa alat untuk membentuk suatu Local Area Network (LAN).

4.      Kartu Jaringan (network interface card /NIC/ network card)
NIC adalah sebuah kartu yang berfungsi sebagai jembatan dari komputer ke sebuah jaringan komputer.
Jenis NIC yang beredar, terbagi menjadi dua jenis, yakni NIC yang bersifat fisik, dan NIC yang bersifat logis. Contoh NIC yang bersifat fisik adalah NIC Ethernet, Token Ring, dan lainnya; sementara NIC yang bersifat logis adalah loopback adapter dan Dial-up Adapter. Disebut juga sebagai Network Adapter. Setiap jenis NIC diberi nomor alamat yang disebut sebagai MAC address, yang dapat bersifat statis atau dapat diubah oleh pengguna.

5.      Bridge

Adalah sebuah komponen jaringan yang digunakan untuk memperluas jaringan atau membuat sebuah segmen jaringan. Bridge jaringan beroperasi di dalam lapisan data-link pada model OSI. Bridge juga dapat digunakan untuk menggabungkan dua buah media jaringan yang berbeda, seperti halnya antara media kabel Unshielded Twisted-Pair (UTP) dengan kabel serat optik atau dua buah arsitektur jaringan yang berbeda, seperti halnya antara Token Ring dan Ethernet. Bridge akan membuat sinyal yang ditransmisikan oleh pengirim tapi tidak melakukan konversi terhadap protokol, sehingga agar dua segmen jaringan yang dikoneksikan ke bridge tersebut harus terdapat protokol jaringan yang sama (seperti halnya TCP/IP). Bridge jaringan juga kadang-kadang mendukung protokol Simple Network Management Protocol (SNMP), dan beberapa di antaranya memiliki fitur diagnosis lainnya. Terdapat tiga jenis bridge jaringan yang umum dijumpai:
Bridge Lokal: sebuah bridge yang dapat menghubungkan segmen-segmen jaringan lokal.
Bridge Remote: dapat digunakan untuk membuat sebuah sambungan (link) antara LAN untuk membuat sebuah Wide Area Network.
Bridge Nirkabel: sebuah bridge yang dapat menggabungkan jaringan LAN berkabel dan jaringan LAN nirkabel.

6.      RAM

Berfungsi sebagai media penyimpanan sementara. RAM minimal 64MB.










7.      Hardisk

 Digunakan untuk media penyimpanan data secarmagnetik. Harddisk minimal 10GB.










8.      Monitor
 Merupakan perangkat output. 

 












10.  Repeater
Berguna untuk menerima sinyal dan memancarkan kembali sinyal tersebut dengan kekuatan yang sama dengan sinyal asli.









Sumber :



Ok sekian dan terima G+ :D



[CERPEN] Air Terjun Perdamaian


Hy hy hy mau ngepost cerpen nih…
Ini sebenernya cerpen buat tugas BI di kelas.
Berhubung gue punya blog gue sasarin deh nih cerpen……….
SEMOGA BISA MENGHIBUR KAWAN!!!
@Happy_reading

Air Terjun Perdamaian


Suasana pagi begitu indah dirasa. Matahari yang dengan sukarelanya membagikan cahaya, burung-burung yang bersenandung ria, bahkan dedaunan yang diselimuti embun nampak basah sempurna. Tak ada sepasang mata pun yang rela melewatkan hal itu. Namun apa boleh buat, bel masuk kelas terdengar nyaring melantunkan nadanya. Reflek, siswa-siswa akan berbaris rapi memasuki kelas. Tentu hal itu berlaku setelah bergantinya kepala sekolah di smp itu. Peraturan diperketat hingga siswa yang memiliki notaben terburuk pun tak bisa lari dari jeratan. Berdampak baik memang, bahkan sangat baik. Karena tidak ada lagi siswa yang berani bertengger di depan kelasnya setelah bel masuk dikumandangkan. Secara alamiah, suasana aman, tertib, dan nyaman tercipta di seluruh penjuru sekolah. Tetapi, siapa sangka. Pagi itu terdapat pemandangan yang jarang terlihat. Secara sekilas dan begitu jelas, terlihat seorang siswi berkerudung tengah melajukan kakinya semaksimal mungkin di koridor kelas VIII. Ia adalah Leli yang tampak sedang lari maraton sendirian, lengkap dengan tumpukan buku paket yang dicengramnya kuat. Tak ia hiraukan suara derap kakinya yang menggema karena saking sepinya koridor itu. Yang ia pikirkan hanya sampai secepat mungkin di kelasnya. Dari kejauhan terlihat dua siswa yang sedang menantikan kedatangannya. Samar-samar kedua siswa itu bersorak-sorak memprofokasi Leli supaya cepat sampai.
       “Ayo, Le! Dikit lagi juga. Keburu si algojo dateng!”, ucap siswa yang bertubuh tinggi.
       “Iya, Le!”, sahut yang satunya. Merasa diancam Leli meningkatkan kecepatannya.
       “Si algojo, kenapa? Kenapa dia? Nggak berulah lagi kan?”, tanya Leli setelah berhasil menggapai posisi kedua temannya.
       “Itu sih bukan berulah lagi kali, Le. Sudah sewenang-wenang! Lihat aja tuh di dalem”, jawab Helis yang bertubuh tinggi itu.
       Tanpa basa-basi, Leli menurut. Ia sedikit tercengang membaca tulisan ‘Acara Karyawisata ke Waterfall (Disetujui)’ yang terlihat jelas dengan ukuran jumbo di papan tulis. Jelas sudah itu ulah dari si algojo yang tak lain adalah wakil ketua kelas di VIII E, Heru. Leli menahan rasa kesalnya. Bisa-bisanya ia sebagai ketua kelas tidak diberi kesempatan untuk berpendapat. Mungkin Heru tahu. Jika Leli tidak akan setuju dengan acara itu. Bagaimana tidak? Leli pernah berkata padanya “Ya kali air terjunnya di tempat yang sudah ter-expose, lha ini di tengah hutan. Bahaya tahu, Her!”, mendengar hal itu saja sudah jelas bukan? Leli tidak setuju! Heru sudah tahu watak Leli yang super keras kepala yang tidak segan bermusuhan dengannya.
       “Her! Pagi-pagi jangan bikin orang naik pitam deh!”, kesal Leli yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi ketika Heri menampakkan dirinya di ambang pintu. Tak lupa telunjuk Leli mengarah tepat pada papan tulis yang tak bersalah itu. Heru mengangkat kedua bahunya.
       “Lihat sendiri kan? Kamu sih Le, terlalu teguh pendirian. Kali-kali ngalah dong. Lagian teman-teman juga pada setuju, kok. So, no poblem, kan?”, jawab Heru terlihat angkuh.
       “Ya, gitu-gitu jangan ninggalin ketua kelas dong.”, gerutu Leli dengan suara sedikit dilemahkan.
       “Siapa suruh datang telat?”, ejek Heru dan melangkah menuju bangkunya.
       Pagi-pagi hati Leli sudah dibuat campur aduk oleh si algojo itu. Entah mengapa julukan ‘algojo’ itu disandang oleh Heru. Mungkin karena sikapnya itu yang membuat lidah tajamnya Leli memilihkan kata ‘algojo’ untuk pangkat terbaru Heru. Dan Heru nyaman-nyaman saja. Sedangkan di pihak Leli, ia harus berlapang dada. Seperti halnya pagi ini. Leli memotifasi dirinya supaya tabah. Ketabahan itu patut diacungi jempol karena ia duduk tepat di sebelah Heru. Leli nampak setenang mungkin. Ketika jam pelajaran tiba, tidak terjadi percakapan di antara keduanya. Sebab keduanya memiliki konsentrasi tingkat tinggi. Maka tidak salah keduanya dipilih sebagai pasangan ketua dan wakil ketua kelas walau tak pernah akur.
       Berbeda dari kemarin dan yang telah berlalu, sejak tadi Leli mengawasi Heru. Ia merasakan atmosfer keceriaan masih melekat pada Heru. Ingin sekali ia melenyapkannya, namun terdengar sangat kejam menurutnya. Dari pada melakukan hal bodoh, terbesitlah ide cemerlang di pikiran Leli. Ia tersenyum puas dan kemudian memanggil Heru pelan.
       “Her! Nanti kita bicara”, ucap Leli atau lebih tepatnya sedang berbisik.
       “Apa, Le? Jangan nanggung dong kalau ngomong. Aku nggak denger”, desah Heru dengan pandangan tak teralihkan dari papan tulis.
       “Heh, jangan pura-pura budeg deh. Nanti kita bicara!”, tegas Leli masih lirih.
       “Ok”.
       Suasana kembali hening, lantaran kedua makhluk itu kembali pada dunia masing-masing. Fokus tentunya. Mata mereka tertuju pada Pak Yusuf guru fisika. Pak Yusuf tengah menerangkan materi dengan lancar, ibarat jalan tol yang bebas hambatan. Itulah sebabnya murid-murid dengan mudah menyerap materi. Terlebih didukung kemauan para murid untuk bungkam selama sesi KBM berlangsung. Sayangnya, jam pelajaran fisika yang termasuk dalam daftar paling digemari itu, berakhir tidak sesuai jadwal. Alasannya simpel, karena Pak Yusuf banyak kerjaan di kantor. Alasan yang sampai kapan pun tidak akan berubah. Sebagian siswa memasang wajah kecewa dan sesekali melemparkan keluhannya sebelum Pak yusuf pergi. Untuk sebagian lagi? Sudah jelas mereka bersorak sorai dibalik ekspresi sok kecewanya. Terbukti setelah Pak Yusuf hilang dari pandangan, mereka bergembira. Mereka mengeluarkan kebahagiaan yang rasanya meluap-luap itu. Jujur saja, kali ini Leli tidak bergeming. Ia tak mau memeperkeruh suasana hatinya. Dipanggillah Heru untuk kedua kalinya.
       “Her! Aku mau bicara”, Leli mengawali pembicaraan dengan nada dibaik-baikkan sembari menghadap Heru di sampingnya.
       “Tinggal ngomong, Le. Aku kan pendengar yang setia”, sahut Heru enteng. Baru saja Leli akan melantunkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar cibiran dari seorang siswi bersama temannya.
       “Hey, lihat tuh! Musuh bebuyutan mau damai! Pergi yuk, nanti kita dikira obat nyamuk, lagi”, celetuk siswi dengan rambut dikepang dua. Temannya itu pun langsung menurut.
       “Siapa juga yang mau damai”, kesal Leli sambil menatap kepergian dua anak itu.
       “Apa, Le? Kamu mau ngomongin apa?”
       “Eh, em oh ya Her, coba pikir lagi deh soal acara itu. Ini acara pribadi kelas kita kan? Apa nggak berlebihan kita perginya ke hutan segala? Aku juga kayaknya nggak diijinin ortu. Pertimbangin lagi deh. Batalin ya?”, ucap Leli to the point, meski dengan nada semakin direndahkan agar Heru bisa sedikit meluluhkan hati nuraninya. Nampak Heru berfikir.
       “Em, ya......(Leli tersenyum) nggak bisa gitu, Le!”, jawaban yang tidak diharapkan. Leli menelan ludahnya.
       “Kamu juga, Le. Jangan berfikir macem-macem dulu. Kita nggak akan nyasar, kok. Di sana ada jalur khususnya. Lagi pula hutannya bagus banget, apalagi air terjunnya. Obat mata deh!”, Heru bersemangat melanjutkan kalimatnya ini.
       “Emang kamu pernah lihat?”, nada mengejek pun keluar.
       “Orang bodoh mana sih yang mau usul tempat wisata, padahal dia belum pernah ke sana. Jarang kan? Ya, aku pernahlah. Bahkan terbilang berkali-kali. Juga, hitung-hitung aku berbagi kebahagiaan, gitu.”, jawab Heru sedikit nyengir.
       “Kenapa sekarang rasanya aku harus nyerah?”, geutu Leli dalam hatinya.
       “Gimana, Le? Terserah deh, yang penting acara itu tetap berlangsung. Aku tunggu kamu di tempat mainnya, Le!”, ucap Heru melangkah keluar dengan senyum misteriusnya yang nampak licik?
       “Eh, kamu mau ke mana? Aku belum selesai!”
       “Mau ke kantin! Mau ikut nggak?”, sahut Heru tetapi tidak membalikkan tubuhnya. Leli diam di tempat.
       “Ada yang habis negosiasi nih. Gimana? Ada hasilnya?”, tanya Gina yang tiba-tiba duduk di samping Leli. Dengan wajah penuh penderitaan, Leli menggeleng. Kali ini, hanya kali ini Leli membiarkan Heru.
**
       Besok adalah hari “H”. Sebenarnya Leli nampak malas menyambutnya. Namun, ia tidak ingin semangat belajarnya hilang, hanya karena ulah Heru. Ia jalani kehidupan sekolah di pagi hari seperti biasa. Di kelas, di kanting, di perpustakaan juga tidak berbeda. Apa lagi di rumah, sehingga ia merasa hari ini terlalu biasa untuk seorang Leli. Jam weker di kamarnya menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah selarut ini, matanya enggan diajak kompromi untuk istirahat. Berulang kali ia mencoba terlelap, namun hasilnya nihil. Ia pun hanya berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Entah kenapa, saat ini pikirannya tertuju pada Heru. Terlintaslah bayangan tentang permusuhan mereka, adegan adu argumen setiap hari di kelas, dan tidak lupa Leli menyadari bahwa ialah yang memulai semua kejadian itu. Leli mulai merasa tidak enak. Leli terlalu sering menentang apa usul dari Heru. Baik itu benar maupun salah. Mungkinkah Leli terlalu berlebihan menanggapi hal sepele itu? atau Leli terlalu berburuk sangka pada Heru? Partner sekaligus tetangganya di kelas. Semakin dalam pikiran itu melekat, semakin lelah Leli memikirkannya. Hingga, ia tidak menyadari ia mulai terlelap.
**
       Minggu pagi ini, entah kesurupan setan apa, Leli sangat bersemangat. Tepat pukul delapan, ia tampak gelagapan mencari-cari barang yang belum masuk ceklist. Kedua orang tuanya hanya tertawa kecil. Sedangkan, seorang makhluk imut yang tak lain adalah adik kecil Leli, hanya menggerutu dan kesal akan sikap kakaknya itu. Kakak yang berstatus ketua kelas, kini terlihat seperti PKL yang terkena gusuran. Ributnya minta ampun!
       “Kak, dari tadi malem dong, disiapinnya! Kaya nggak niat banget. Lihat tuh sudah jam delapan, kesiangan baru tahu deh!”, omel Dafa pada kakaknya itu.
       “Emang nggak niat kali. Nih aja semangatnya baru muncul tadi pagi.”, sahutku masih mengobrak abrik isi ruang tengah.
       “Kamu nyariin apa sih, Kak? Sampai adiknya marah-marah gitu”, desah mama.
       “Lagi nyari jaket, Ma. Mama lihat? Nanti takut kedinginan, kan wisatanya di kaki gunung, Ma”, jawab Leli panjang lebar.
       “Bukannya kemarin kamu bawa ke sekolah ya?”, sahut papa ikut-ikutan. Leli menepuk jidat.
       “Oh, ya. Leli lupa! Wah bisa-bisa tuh jaket udah nginep di sekolah lagi. Ma, gimana dong!”, ucap Leli khawatir karena tak rela jaket kesayangannya tergelak dalam kegelapan. Namun sudah terlanjur.
       “Sms temanmu, kak. Kali aja ada yang sukarela jadi relawan. Relawan untuk mengevakuasi jaket kakak yang terjebak dalam kelas yang kotor dan bau itu!”, pernyataan yang awalannya memberi saran dan akhirannya memberi ejekan. Ejekan pada Leli tentunya, karena sekali lagi ia adalah ketua kelasnya.
       “Makasih, Daf. Kadang kamu berguna juga.”, ucapku sambil nyengir dan bergegas ke kamar.
       Di kamar, Leli menyebarkan pandangan dan mencari lokasi hpku. Tentu saja ia harus teliti mencari hpnya itu. Asal kalian tahu, kondisi kamarnya kini hampir sama dengan ruang tengah yang telah ia obrak-abrik. Bisa kalian bayangkan? Sedikit susah memang. Namun, kebiasaannya membawa jalan keluar. Hp itu tergeletak di meja belajarnya. Tanpa berfikir lama, langsung saja Leli mengingat satu nama, Heru. Segaralah ia kirimkan sebuah pesan.
       ‘Sob, tolong ambilin jaketku di kelas dong. Please! Rumahmu kan deket jadi usahain ya!
        Nanti aku ambil sebelum kita berangkat.
        Balas aja “ya” jangan tanya-tanya nggak jelas. Lagi hemat pulsa, jadi jangan ngarep
        dapet balasan lagi. Trims. Sekian dan terima jaket.’ Singkat namun to the point.

       Tidak ada balasan dari Heru. Ingin Leli mengomel-ngomel di pesan yang berikutnya. Namun, ia sudah terlanjur berkata tidak akan sms lagi. Jadi, harus jaga image. Dari pada menghabiskan waktu, Leli menggeletakkan hpnya dan pergi ke dapur untuk mengambil sarapan. Waktu sarapan yang terbilang ekspres itu mampu menguras habis sisa waktu Leli di rumah, sebelum akhirnya berangkat ke acara wisata itu. Dengan tergopoh-gopoh ia memasukkan tas dan keperluan lainnya ke dalam mobil dan melaju bersama ayah dan adiknya.
       “Kak, Dafa minta oleh-oleh ya!”, seru Dafa setengah berteriak padahal Leli tepat di sampingnya.
       “Iya, nanti kakak oleh-olehin ranting sama batu.”, jawabku enteng.
       “Lho kok bisa?”
       “Kenapa nggak? Lagi pula kakak pergi ke hutan, ya itu kan oleh-olehnya?”
       “Nggak jadi deh!”, ternyata ucapan Leli mampu membuata adiknya sendiri kehilangan harapannya. Leli mengangguk mengiyakan.
       Tidak terasa perjalanan setengah jam, telah terlewati. Kini sampailah Leli di depan pintu gerbang smpnya. Karena acara ini hanya dilakukan kelas VIII E, jadi jelaslah suasana tidak terlalu ramai. Lagi pula, hanya satu hari. Terlihat banyak teman-temannya sudah menunggu. Leli bergegas masuk setelah mobil ayahnya pergi. Setelah bergabung dengan gerombolan di tengah lapangan itu, ia melihat Heru sedang berbicara. Namun, lebih tepat lagi berteriak-teriak lengkap dengan speaker sehingga ia nampak sedang berorasi. Sepertinya semuanya sudah siap berangkat.
       “Ya, teman-teman. Berhubung ketua kelas kita datengnya paling telah, udah diketahui keberadaannya, jadi? Kita mulai wisatanya!!!”, ucap Heru menggebu-gebu seperti akan perang saja. Tetapi tetap saja, terselip sindiran untuk Leli.
       Dengan semangat yang sempat tergores oleh perkataan Heru, Leli masih bisa tersenyum dan melalui perjalanan dengan baik. Ia duduk bersama Gina yang memang teman sebangkunya. Puluhan kilometer diterjang habis oleh bus pariwisata dengan kecepatan yang terbilang cukup ekstrim. Untuk mereka yang tinggal duduk manis, memprotes sopir bus yang nampak garang adalah tidak mungkin. Untuk mengusir rasa takut akan kebut-kebutan seluruh kelas VIII E bernyanyi yel-yel kelasnya serempak. Selama sang sopir tidak terganggu, apa salahnya? Tidak lama nyanyian mereka terhenti, lantaran merasa bus itu tidak berpindah tempat. Yap, mereka sudah tiba! Terjadilah aksi saling dorong dan teriak-teriak ketika mereka semua ingin keluar bus secara bersamaan, begitulah jika terlalu kompak. Setelah seluruh siswa menginjakkan kaki di tempat itu, seperti biasa Heru bekerja memberikan intruksi.
       “Alhamdulillah, kita telah sampai dengan selamat. Selanjutnya, kita akan segera bergerak menuju air terjun. Untuk menjaga keselamatan, kita akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Silahkan kalian mengambil gulungan kertas untuk menentukan kelompoknya. Dan diharap kalian tidah menjauh dari kelompok lain karena itu berbahaya! Sekian dan selamat bersenang-senang guys!”, Heru masih saja setia dengan speakernya itu.
       Leli dan yang lainnya buru-buru mengambil satu gulungan kertas. Sembari berharap bahwa partnernya kini bukannlah seorang monster ataupun si algojo itu. Semua siswa membuka gulungan itu, sesekali tampak satu dua anak yang curi-curi pandang ke teman sebelahnya. Leli melihat isi gulungan itu bertuliskan ‘Maaf’, mungkin pilihannya berupa kata-kata baik dan bijak yang terlalu mainstream. Secepat mungkin Leli harus menemukan anak dengan tulisan yang sama. Namun tidak ada. Aneh sekali. Hampir saja Leli menyerah, ia melihat Heru sedang menata tas-tas teman-temannya yang berantakan. Leli menghampirinya.
       “Dapet apa, Her”, ucap Leli ketus.
       “Dapet tugas ngerapiin tas. Kamu sih jadi ketua kelas nggak tanggung jawab. Bantuin nih!”, perintah Heru, Leli tidak bisa menolak.
       “Dapet apa Her?”, tanya Leli sekali lagi.
       “Dapet apanya? Oh.. yang kertas ya? Belum kubuka tuh, buka aja kalau berminat”
       “Baru nyambung rupanya. Duh jangan sampai deh sekelompok sama bocah kaya gini”, desah Leli lirih dan menggapai gulungan kertas yang Heru maksud. Mata Leli terbelalak.
       “Sama! Kok bisa sama, Her? Nih tulisannya ‘Maaf’ sama kan?”, ucap Leli panik. Heru angkat bahu.
       “Mana-ku-tahu. Oh ya, berarti kita Cuma berdua, Le”
       “Berdua dengan si algojo? Ya Allah kuatkanlah hamba-Mu ini”, doa Leli dalam hati.
       “Berdua gimana? Yang lainnya pada berempat kok”, tepis Leli.
       “Yeh, kamu nggak nyadar dua anak nggak ikut acara ini? Ituloh si Dinda sama Haris. Trus pas aku lihat gulungan yang sisa, di sana dua-duanya bertuliskan ‘Maaf’, jadi kita terpaksa berdua doang”
       “Oh”, ya begitulah yang namanya nasib. Leli harus berhadapan dengan Heru seorang diri.
       Sepanjang perjalanan mencari air terjun, Leli selalu berjalan di belakang Heru. Ia tidak ingin menunjukkan kekagumannya akan pemandangan di hutan itu kepada Heru. Jaga image adalah kata kuncinya. Karena Leli pernah mengecap tempat seindah ini sebagai tempat menyeramkan penuh bahaya tepat di depan Heru. Tapi kini, Heru memang benar, hutan ini sudah ada jalurnya sendiri. Dengan pemandangan yang nggak tanggung-tanggung, penuh pohon penuh oksigen. Juga ada sebuah sungai yang mengalir yang kemungkinan pangkalnya adalah air terjun yang mereka cari. Perjalanan ini bukan hanya melintasi hutan belakan. Mereka harus merelakan sepatu dan bawahan mereka basah. Karena jalus yang telah dibuat mengharuskan pengunjung meyusuri sungai yang panjang itu sesekali. Sungai yang jernih, indah, segar airnya, namun siapa tahu ada bahaya di dalamnya. Walaupun tengah terpesona dengan hutan itu, pandangan Leli juga mengenai punggung Heru. Dari belakang nampak Heru sedang mencatan di buku kecilnya. Mirip buku diary saja. Namun dengan mengawasi Heru dari belakang seperti ini, tidak akan merubahn sikap Heru pada Leli. Sering sekali Leli terpeleset karena sepatunya dan Heru tidak menoleh apalagi menolong. Ketika Leli memekik kedinginan pada saat kakinya menyentuh air sungai Heru tak bergeming sedikitpun. Seolah-olah hanya ada satu arah, ke depan! Leli mulai geram dan mulai menjauh ke belakang dari Heru. Itu juga Heru tak menyadarinya. Kini, Leli berada di barisan paling belakang bersama Feza dan Galih. Mereka enak sekali diajak berbicara. Nyambung tentunya, tidak seperti si algojo itu. Leli menjadi semakin menikmati suasana.
       “Eh, Le? Kamu kok malah ke belakang gini sih? Kamu kan kelompoknya bareng Heru. Entar kalau kamu kenapa-kenapa pasti Heru yang kena deh”, celetuk Feza.
       “Biarin, Za. Salah siapa nyuekin ketua kelas. Biar tahu rasa.”, jawab Leli santai.
       “Jadi kamu ngambek nieh? Trus kita buat pelampiasan gitu?”, ledek Galih sembari menunjuk Feza.
       “Mung-kin”, Leli nampaknya gampang akrab dengan anak-anak seperti Feza dan Galih,
       “Jangan ngaco, Gal. Kita? Kamu aja kali, aku mah ogah.”, sahut Feza setengah mengejek. Suasana menyenangkan seperti inilah yang Leli harapkan, andai partnernya itu bukan Heru si cuek, eh rupanya ada julukan baru.
       Lagi senang-senangnya Leli mendapatkan partner baru, pikirannya terusik kembali. Ia melihat seekor monyet bergelantungan di atas pohon tentunya. Monyet itu sedang memegang sebuah buku diary eh buku saku maksudnya. Terlalu rajin bagi seekor monyet sampai membawa buku saku begitu. Hingga Leli pun teringat akan Heru. Hingga Leli pun teringat akan Heru. Setelah dianalisis buku itu memang milik Heru! Ingin Leli menyaksikan ekspresi khawatir Heru saat menyadari bukunya hilang. Namun dengan jarak yang jauh? Mustahil bukan? Ia urungkan melihat hal konyol dambaannya itu. Segeralah ia mengikuti monyet itu pergi. Keuntungan Leli adalah Feza dan Galih tidak menyadari kepergiannya. Cepat-cepat Leli mengejar monyet yang lihai itu. Leli harus mengalami maratonnya meski di hutan. Bebeapa saat kemudian, Leli sedang bersembunyi, lebih tepatnya menyusun rencana. Ia melihat monyet itu sendirian. Ia tidak boleh kehilangan jejak. Karena hal itu membuat usahanya mengejar monyet pencuri itu sia-sia. Perlahan sembari masih memikirkan rencana, didekatinya monyet itu. Tiba-tiba Leli mengeluarkan sebuah pisang. Tentu itu adalah bekalnya. Diming-imingkan pisang itu. monyet tersebut tampak tergiur. Langsung saja dilemparkan buku saku itu, dan diambillah pisang dari tangan Leli. Langsung mengerti rupanya. Takut mengambil resiko bekalnya akan habis dirampas oleh monyet itu, Leli berlari menjauh hingga cukup jauh dari kedudukannya semula. Menyadari dirinya telah jauh dari rombongan kelasnya, Leli hanya bersikap tenang. Tidak seperti kebanyakan orang normal yang ketakutan, menjerit-jerit, jongkok sambil menangis, atau mendramatisir keadaan dengan hal-hal aneh. Ia lebih memilih duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai. Itulah sebabnya Leli merasa tenang, karena tempat ini dilewatinya tadi. Jadi, Leli tidak tersesat.
       Merendam kakinya yang pegal ke dalam air sungai rasanya sangat nyaman. Sesekali ia bermain air sendirian, kedinginan sudah pasti. Namun kalah oleh rasa takjupnya pada pemandangan yang ia lihat. Sungai dihadapannya ini nampak sangat besar. Airnya yang kebiru-biruan menjelaskan betapa dalamnya sungai itu. Arusnya tidak deras, jadi aman-aman saja. Karena sudah terlanjur jauh, Leli tidak berminat menyusul temannya apalgi seorang diri. Menikmati pemandangan sungai besar itu sudah cukup untuknya. Tiba-tiba saja adrenalinnya terpacu, ia menyadari ada sesuatu menyentuh punggungnya. Wah, apa itu ular? Kalajengking? Atau monyet yang ia tinggalkan tadi? Banyak sekali hewan di hutan itu. Namun sekali lagi Leli terlihat tenang, meski berpura-pura. Jika dilihat lebih fokus lagi, sesuatu itu bukan binatang tetapi sebuah kain. Lebih tepatnya jaket! Berarti ada seseorang di belakang Leli. Pikiran yang terlalu sering dilatih berburuk sangka pun, memunculkan kemungkinan yang menakutkan. Mulai dari, seorang penculik? Pembunuh berantai? Atau orang gila yang tersesat? Musnahlah pikirang itu ketika ia mendengar suara Heru di belakngnya. Reflek Leli kaget dan hampir saja nyebur ke sungai. Dengan sigap Heru menarik tangan Leli sebelum terlambat. Dibantunya Leli berdiri.
       “Le, bikin susah orang aja. Napain sih ngetem di sini? Tuh temen-temen ribut semua, padahal lagi asiknya foto-foto di air terjun”, kesal Heru. Sudah sampai rupanya.
       “Trus juga, kenapa tadi kamu ngejauh sih? Pas di sini pula. Emang aku dikira nggak tahu apa?”, sambung Heru. Ternyata Heru menyadarinya? Ya memang tepat di dekat batu besar itu Leli mundur ke belakang dan bergabung bersama Feza dan Galih.
       “Ya udah, ayo buruan gabung ke sana. Kalo kamu tetep di sini kamu bakalan nyesel!”
       “Eh, Her air terjunnya gede nggak?”, tiba-tiba ucapan itu keluar begitu saja.
       “Gede, gede banget malah!”, jawab Heru ketus.
       Tanpa basa-basi mereka segera melakukan perjalanan ulang. Sama seperti sebelumnya, Leli terkagum-kagum melihat pemandangan yang belum sempat ia rasakan. Misalnya, tebing-tebing yang tidak terlalu tinggi, yang seolah-olah membentengi jalur perjalanan itu. Keadaan yang masih sangat sejuk walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Cukup lama mereka berjalan, akhirnya terdengarlah keramaian yang tak lain adalah teman-temannya. Senyum sumringah diperlihatkan oleh Leli. Ia menyaksikan pemandangan yang jarang sekali ia temukan. Air terjun itu dikelilingi oleh tebing yang hampir membentuk lingkaran utuh. Tidak utuh karena jelas sebagai jalur masuk ke kawasan itu. Di sana tampak lebih gelap. Cahaya matahari yang terpancar hanya dari arah atas. Kedua mata Leli terasa terobati dan matanya terpaku pada air terjun itu. Mulutnya menganga terheran-heran. Air terjun yang ia bayangkan sangat besar, dengan ketinggian supernya tiba-tiba berubah 1800. Di hadapannya tersanding air terjun kecil dengan ketinggian hanya tiga meter. Leli kecewa di tempat.
       “Jangan melongo gitu, Le. Nanti kemasukan batu, lho.”, ledek Heru yang berada di samping Leli.
       “Kamu bohongin aku ya?”, selidik Leli menatap mata Heru setajam mungkin.
       “Tapi kan supaya kamu senang. Bukan begitu?” Leli mengangguk. Tetapi tetap saja ia tidak suka dibohongi.
       “Oh, ya sekarang kamu jelasin kronoligi kejadiannya. Sampai kamu ngetem di batu gede tadi!”, pinta Heru memaksa.
       “Tanya aja sama nih buku!”, ucap Leli ketus. Heru tampak bingung.
       “Jadi, tadi aku udah cape dicuekin terus. Aku gabung deh sama Feza di belakang. Eh lagi seneng-senengnya, ada monyet yang lagi bawa tuh buku. Kupikir itu monyet terpintar yang sanggup menulis kaya manusia. Setelah ku analisa, itu buku punyamu kan? Jiwa persahabatanku muncul deh. Ya, walaupun harus lari maraton akhirnya bukumu bisa aku ambil. Pas aku balik, malah sampai di batu besar tadi. Dari pada ngelanjutin seorang diri, mending duduk-duduk kek. Pemandangan di sana juga bagus.”, oceh Leli mirip ibu-ibu arisan. Heru tampak bersalah.
       “Sorry ya, Le. Bukannya aku cuek. Aku nggak mau nambah masalah kalau aku ngajak kamu bicara.”, ucapan Heru ini membuat Leli tersentak. Menambah masalah?
       “Jadi memang benar, kalau aku terlalu berlebihan menanggapi Heru? Ya Allah bagaimana bisa aku tega seperti ini?”, sesal Leli dalam hati terdalamnya.
       “Her... Maafin aku ya?”, desah Leli lirih.
       “Apa? Kamu ngomong apa Le? Yang keras dong.” Pura-pura tidak mendengar rupanya.
       “Aku minta maaf Her!”, jerit Leli yang sontak membuat teman-temannya terdiam.
       “Iya! Aku minta maaf! Aku egois, nggak mau ndengerin kamu! Tadi kamu udah nologin aku kan? Aku ngerasa bersalah Her!”, jelas Leli yang tidak mempedulikan teman-temannya yang terdiam tidak percaya, dan air matanya sedikit menetes.
       “Aku jadi terharu, Le” Masih sempat-sempatnya Heru becanda.
       “Iya aku maafin. Aku juga minta maaf ya Le. Jaketmu, tadi aku laundry. Soalnya bau banget sih.”, pernyataan Heru yang sangat dinantika oleh Leli, dengan akhiran mengejek?
       “Nggak papa kok, Her. Oh ya makasih jaketnya. Aku pinjem dulu boleh?”, tutur Leli yang nampaknya tidak marah. Ia juga berusaha ngomong baik-baik pada Heru. Heru mengangguk.
       “Jadi?”, tanya Heru.
       “Jadi apa?”, jawab Leli polos.
       “Kita baikan? Mau nggak?”, ajak Heru. Leli mengangguk mantap sembari tersenyum. Senyum yang bahkan belum pernah dilihat oleh Heru.
       “Cie, yang udah damai nih!” “Makanya jangan musuhan dong” “Baikannya yang lama yah! Biar nggak bikin ribut”, itulah celoteh-celoteh siswa kelas VIII E. Mereka merasa lega bisa melihat perdamaian di antara Leli dan Heru.
       “Guys! Ayo kita foto bareng!”, seru Heru menggema di antara tebing itu.
       “Eh ada turis tuh. Ajak dia dong”, pinta Heru pada Hisa yang pintar bahasa Inggris. Hisa menurut. Dipanggillah turis itu, dan ia meminta untuk ikut berfoto bersama. Entah ungkapan seperti apa yang digunakan. Si turis pun mudah mengerti. Jepret.
       Atmosfer kebahagiaan menyelimuti di air terjun itu. Air terjun yang menjadi saksi pengakuan Leli dan Heru. Juga persahabatan mereka. Kini, hidup Leli menjadi lebih tenang. Walaupun terkadang masih berseteri dengan Heru. Tetapi itu dianggapnya becandaan belaka. Hingga suatu hari ia menemukan sebuah foto di loker mejanya. Foto itu adalah foto di air terjun yang terlihat keramaiannya. Di sela-sela itu, Leli terlihat bersebelahan dengan Heru. Mereka menunjukkan senyum terlebar mereka. Tidak terlihat tanda-tanda permusuhan.
       “Air Terjun Perdamain. Tempat ketua dan wakil ketua kelas kami berdamai dan menyambung persahabatan. Leli dan Heru bersahabatlah selamanya. Salam Heru.”, Leli tertawa membaca kalimat terakhir di balik foto itu. Ternyata Heru yang mengirimnya. Semenjak saat itu, hubungan mereka berdua berubah drastis. Semakin membaik seiring berjalannya waktu.
_Tamat_



Tinggalkan jejak guys! 

- Copyright © IndahLy - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -